Tentang Kehendak Untuk Berkuasa
“jika tubuh ini
hidup dan tidak mati, tubuh ini tetap harus memperlakukan tubuh-tubuh lain sama
seperti ia melakukan tubuhnya sendiri. Tubuh itu sendiri tetap melakukan
pembadanan dari kehendak untuk berkuasa, tubuh kita ingin tumbuh, menyebar,
memegang, memenangkan dominasi – bukan karena soal moralitas, melainkan karena
tubuh itu hidup, dan karena itu sendiri adalah kehendak untuk berkuasa”.
(Nietzche, dalam “Beyond Good and Evil”, 2002).
Hari ini saya dibayangi oleh perenungan filsafat
tentang konsep kehendak untuk berkuasa. Konsep kehendak untuk berkuasa adalah suatu
konsep filsafat yang dipopulerkan oleh seorang filsuf kelahiran Jerman, yaitu
Freiderich Nietzche (1844-1900). Menurut saya, Nietzche adalah filsuf yang
memiliki pengaruh besar dalam perjalan sejarah filsafat.
Pemikirannya banyak mempengaruhi para
pemikir filsafat sesudahnya, baik itu para pemikir filsafat di abad ke-20
bahkan pemikir filsafat di abad ke-21. Dan khususnya bagi para pemikir filsafat
postmodernisme, pemikiran Nietzche dianggap sebagai peletak dasar fondasi
munculnya filsafat postmodernisme, dari sini banyak pula para pemerhati
filsafat mengatakan bahwa filsafat Nietzche adalah akar dari munculnya filsafat
postmodernisme. Selain itu, Nietzche pun dikenal sebagai filsuf yang secara
keras menentang tradisi kristiani di Eropa, bahkan pemikirannya pun sangat
kritis dalam memandang kebudayaan yang terjadi pada zamannya, dimana sebuah zaman
yang merupakan hasil dari konstruksi filsafat modernisme atau juga sering
disebut sebagai istilah filsafat semangat pencerahan Eropa.
Pada awal tulisan ini saya sengaja
mengutip pernyataan Nietzche. Kutipan itu merupakan suatu pernyataan Nietzche
tentang konsep kehendak untuk berkuasa (The
will to power). Konsep kehendak untuk berkuasa merupakan suatu konsep
filsafat yang sering sekali menjadi pembicaraan-pembicaraan para intelektual,
terutama ketika membicarakan filsafat Nietzche. Dari konsep inilah yang menurut
saya, kemudian akan menjadi konsep dasar pemikiran filsafat postmodernisme
terutama yang tertuang pada pemikiran filsafat Michael Foucault dan Derrida.
Menurut Nietzche, manusia dan alam
semseta ini telah di dorong oleh kekuatan purba, yaitu kehendak untuk berkuasa.
Kekuatan purba ini bukanlah sesuatu yang datang dari dunia lain, seperti halnya
sesuatu datang dari dunia gaib. Kekuatan ini merupakan sesuatu dorongan yang
datang dari kehidupan manusia atau bahkan dunia ini sendiri, dan dalam proses
keberlangsungannya, dorongan ini tidak dapat ada yang dapat melenyapkannya atau
bahkan menahannya. Karena bagaimanapun kehendak
untuk berkuasa ini merupakan suatu dorongan yang dapat membentuk suatu realitas
serta membentuk tentang segala macam yang ada di dalam kehidupan manusia dan dunia
ini.
Kehendak untuk berkuasa merupakan
sesuatu yang tidak dapat dihancurkan atau dimusnahkan. Kehendak ini selalu muncul
pada diri manusia yang secara sadar atau pun secara tidak sadar. Dapat dikatakan,
kehendak untuk berkuasa merupakan klaim kekuasaan yang paling tiranik yang
selalu muncul dalam kehidupan. Bahkan dalam wilayah yang lain, kehendak ini pun
datang dari wilayah kognitif manusia atau bahkan dari wilayah yang bersifat instingtual
di dalam kehidupan manusia. Bagi Nietzche, kehendak ini tidaklah datang dari
apa yang disebut “Sang Pencipta” atau “Yang Menciptakan”, atau dalam istilah
lain “Yang Maha Agung”. Kehendak untuk berkuasa merupakan suatu dorongan dari
manusia dan dunia yang kemudian dapat membentuk suatu realitas atau kehidupan
di dunia ini menjadi ada. Dengan meniadakan konsep “Yang Menciptakan” atau
“Yang Maha Agung” ini Nietzche kemudian dikenal sebagai seorang filsuf yang
memiliki corak pemikirian nihilis, karena menganggap semua dunia dengan cara
yang kosong.
Dalam pemikiran filsafat Nietzche, tidak ada Istilah-istilah
atau konsep seperti “Sang Pencipta” atau istilah di dalam tradisi dan
ajaran-ajaran agama yang disebut dengan Tuhan. Bahkan semua istilah itu telah
di buang jauh-jauh dalam konsep pemikiran filsafatnya. Bagi Nietzche, dunia ini
adalah kekosongan. Dunia ini hadir melalui kekeuatan-kekuatannya sendiri.
kekuatan-kekuatan ini muncul dari seluruh elemen yang ada secara keseluruhan di
dunia ini seperti suatu gerak, suasana psikis, pertukaran zat, bahkan
peleburan-peleburan organik, yang kemudian menyebabkan suatu ledakan dasyat
sehingga muncullah suatu dunia atau kehidupan manusia di dunia ini.
Ketika dunia ini ada, maka manusia pun dengan segala
macam kehendak untuk berkuasanya ini memainkan peranannya untuk memperoleh
segala macam pengetahuannya serta selalu berusaha untuk melakukan upaya-upaya penafsiran
terhadap dunia ini. Dari dua macam kehendak inilah kemudian manusia terdorong
dirinya menjadi subjek yang aktif di dalam menjalani kehidupannya. Manusia pun
kemudian menciptakan kehidupan dan menata tatanan dunia ini menjadi bermakna,
karena pada mulanya dunia ini adalah sebuah kekosongan. dari kekosongan
tersebut kemudian manusia mengisinya, menjadi ada, atasa dasar kehendak untuk
berkuasa.
Manusia bagi Nietzche adalah mahluk yang hidup atas
dasar rasa dan sensasi yang diterimanya dari dunia. Rasa dan sensasi-sensi ini
tidak lain adalah hasrat manusia yang kemudian berupaya secara terus-menerus
untuk menciptakan dunia. Begitu juga sebaliknya dengan dunia. Karena ada
manusia, dunia ini pun terdorong atas kehendaknya untuk berkuasa, agar secara natural
antara dunia dan manusia dapat berdampingan fungsinya. Jadi dalam hal ini,
dunia dan manusia sama-sama memilki kehendak untuk berkuasa. Secara beriringan
keduanya berfungsi beriringan untuk saling mendorong kehendaknya untuk
berkuasa. Karena bagi Nietzche, melalui dua yang saling mencerminkan kehendak
untuk berkuasa inilah kehidupan pun telah tercipta.
Jadi dalam tulisan ini, dengan bersandarkan pada
pemikiran filsafat tentang kehendak untuk berkuasa Nietzche, dapat dikatakan
bahwa setiap unsur yang membentuk, setiap yang menjadi, atau bahkan setiap yang
ada, merupakan suatu dorongan yang datang dari adanya kehendak untuk berkuasa (the will to power). Tidak ada suatu
tindakan jika tidak ada dorongan kehendak berkuasa. Begitu pun tidak mungkin ada
suatu konsep jika tidak ada pula dorongan kehendak untuk berkuasa. Atau bahkan
dapat dikatakan, tidak mungkin ada gambaran jika tidak ada dorongan kehendak
untuk berkuasa. Semua ada karena adanya kehendak untuk berkuasa. Dan oleh karena
itu, hidup ini pun bagi ini Nietzche adalah atas dasar adanya dorongan kehendak
untuk berkuasa. Kira-kira seperti itulah tentang kehendak berkuasa dalam
pandangan Nietzche.
Komentar
Posting Komentar