AKU ADA KARENA BUKAN SESUATU YANG DATANG DARI LUAR DIRIKU


OLEH: SALMAN AHMAD RIDWAN

Mengapa Aku? Aku disini dimaksudkan untuk mempertegas kembali tentang posisi manusia sebagai subjek yang memiliki kesadaran. Dan kesadaran merupakan suatu pembahasan yang menarik untuk diperbincangkan hingga saat ini. Di dalam kehidupan kita saat ini, kita perlu mempertegas kembali bahwa, kita merupakan manusia yang dalam kehidupannya berperan sebagai subjek yang memiliki kesadaran secara eksistensial. Mengapa? Karena sampai saat ini, di dalam kehidupan kita, kita telah banyak menjumpai bahkan mengalami hal-hal yang sangat memprihatinkan. Sebut saja prilaku masyarakat dalam mengkonsumsi barang-barang produksi secara berlebihan (konsumerisme), maraknya praktik hedonisme ekstrem, bahkan pada tingkat munculnya praktik-praktik kekerasan atas nama agama, ideologi, suku, dan budaya. Itu semua jelas secara terang-terangan telah membuat gambaran buram pada potret kehidupan kita sebagai manusia yang memiliki kesadaran dan kebebasan otonom.

Potret buram itu pun tidak hanya terekam pada wilayah praktek kehidupan, di dalam wacana filsafat pun posisi kesadaran dalam diri manusia telah mengalami hal yang memprihatinkan. Posisi kesadaran dalam perbincangan filsafat secara terang-terangan telah berhadapan dengan serangan-serangan yang sangat dasyat dari berbagai macam aliran pemikiran filsafat. Sebut saja serangan yang datang dari pemikiran filsafat psikoanalisis, sebuah aliran filsafat yang telah dipelopori oleh Sigmund Freud (1856-1939) ini secara terang-terangan telah menyerang kesadaran yang ada dalam diri manusia. Pendapatnya yang menyatkan bahwa, setiap prilaku dan tindakan manusia itu tidak lain adalah sesuatu yang digerakan oleh dominasi ketidaksadaran sebenarnya merupakan pukulan keras bagi manusia yang memiliki kesadaran.

Selain serangan yang datang dari pemikiran psikoanalisis, serangan lain pun datang menyerang kesadaran manusia, dan serangan ini datang dari pemikiran filsafat postmodernisme. Berbeda dengan psikoanalisis, serangan yang dilakukan oleh postmodernisme terhadap kesadaran manusia dapat dikatakan sebagai serangan yang paling ekstrem. Bagi postmodernisme, subjek itu telah mati. Karena telah mati, maka subjek pun tidak ada. Subjek dalam diri manusia menjadi sesuatu yang kosong. Karena manusia adalah subjek yang kosong, maka yang ada adalah subjektifikasi. Manusia dengan segala macam bentuk kesadarannya, menurut para pemikir postmodernisme tidak lain adalah hasil dari subjektifikasi yang dikonstruk oleh struktur-struktur diluar dirinya. Kesadaran manusia bagi para filsuf postmodernisme tidak lain adalah suatu bentukan dari sebuah ideologi, bahasa, politik, ekonomi, wacana, bahkan pengetahuan-pengetahuan.

Menurut saya, matinya subjek seperti apa yang dinyatakan para pemikir postmodernisme itu bukanlah sesuatu hal yang sangat berlebihan. Patut dipungkiri, dalam kehidupan saat ini, sulit kita menemukan kesadaran manusia yang benar-benar otonom. Hampir sebagian besar prilaku manusia dan segala macam tindakannya tidak dapat dilepaskan dari struktur-struktur yang ada di luar dirinya. Dalam ideologi misalnya, kita ketahui bagaimana warga negara Korea Utara secara total tunduk dan patuh pada ideologi sosialisme-komunisme di bawah kekuasaan Kim Jon Un. Kesadaran mereka dibentuk secara total untuk meyakini bahwa apa yang menjadi kebenaran adalah apa yang ada di dalam ajaran komunisme dan kebijakan-kebijakan pemimpin negaranya. Setiap warga negara di Korea Utara telah ditempakan hanya sebatas sebagai komponen komoditas politik ideologi negaranya.

Dari kasus ini, pandangan Louis Althusser (1918-1990) pun menjadi sangat relevan. Karena dalam pandangannya yang menyatakan bahwa ideologi merupakan sayarat-syarat terbentuknya produksi. Namun kekuasaan itu pun tidak hanya masuk pada tataran ideologi saja seperti apa yang dinyatakan oleh Althusser, di dalam yang lain pun seperti bahasa, politik, ekonomi, bahkan pengetahuan, itu semua bagi para filsuf postmodern selalu memiliki relasi kuasa dalam membentuk kesadaran manusia. Jadi, subjek  ada dalam diri manusia yang tidak lain merupakan suatu hasil dari subjektifikasi. 

Dari dua serangan pemikiran filsafat terhadap kesadaran di atas, dapat diakatakan bahwa memang sampai saat ini kesadaran dalam diri manusia benar-benar sangat memprihatinkan. Karena adanya keprihatinan ini maka muncul pula pertanyaan kita: apakah saat ini masih relevan jika kita membicarakan kembali tentang kesadaran manusia? jika memang kesadaran manusia telah hancur dan menjadi kosong seperti yang katakana oleh para filsuf postmodernisme, bagaimana dengan peran dan posisi manusia sebagai mahluk yang otonom? Bukankah jika kesadaran manusia dihancurkan dan menjadi kosong, kebebasan pun menjadi hilang diri manusia? dari pertanyaan-pertanyaan inilah saya kira upaya membincangkan kembali manusia sebagai subjek yang memiliki kesadaran dan kebebasan menjadi sangat penting, terutama membincangkannya di atas meja filsafat.

Dari Husserl, Heidegger, Hingga Satre

Membicarakan diskursus kesadaran dalam meja filsafat, setidaknya kita pun tidak dapat lepas dari pemikiran filsafat fenomenologi yang telah dikembangkan oleh Edmund Husserl (1859-1938). Husserl adalah seorang filsuf kelahiran asal Jerman yang pernah menjadi rektor di Universitas Freiburg, Jerman. Dalam pengembaraan filsafatnya, Husserl berupaya menempatkan fenomenologi sebagai suatu ilmu, dimana dalam hal ini kesadaran telah ditempatkan sebagai sesuatu yang paling dasar untuk dijadikan tolak ukur dalam membicarakan persoalan-persoalan pada diskursus filsafat. Maka tidak heran jika para filsuf setelahnya seperti Martin Heidegger, Jean Paul Satre, Maurice Merleau Ponty, memiliki hubungan dan sangat dipengaruhi oleh pemikiran Edmund Husserl.       

Menurut Husserl, kesadaran adalah sesuatu yang tidak bipolar, yaitu bersifat berada dalam dua kutub yang berbeda, seperti kesadaran dan alam yang saling bertentangan. Kesadaran dalam pandangan seperti itu adalah kesadaran yang tidak akan menemukan objek. Menurut Husserl adanya objek-objek justru karena hal itu telah diciptakan oleh kesadaran itu sendiri. dalam hal ini bahwa kesadaranlah yang telah menciptakan objek-objek di luar dirinya. Jadi kesadaran disini selalu terbuka pada setiap objek-objek yang ada. dank arena terbuka maka kesadaran telah menemukan objek-objek yan disadarinya.

Kesadaran dalam pandangan Husserl tidak seperti kesadaran yang ada dalam pandangan Rene Descartes (1594-1650). Bagi Husserl, Descartes telah menempatkan kesadaran (pikiran) sebagai kesdaran yang tertutup terhadap objek-objek yang ada diluar dirinya. berbeda dengan Descartes, Kesadaran menurut Husserl pada dasarnya selalu terarah dan selalu menuju pada suatu objek yang disadari, sehingga Husserl berpendapat bahwa kesadaran itu bersifat intensionalitas. Intensionalitas inilah yang kemudian membuat kesadaran itu menyadari akan sesuatu yang sadari, karena ia sadar atas apa yang ia sadadri maka maka kesadaran pun dapat mengubah sesuatu objek yang ia sadari. Dalam sifat yang intensionalitas ini Subjek dan objek itu tidaklah berdiam diri, subjek dan objek adalah sesuatu yang saling berinteraksi, sehingga objek yang telah disadari oleh kesadaran tersebut tidak lain merupakan suatu bentukan yang diciptakan oleh kesadaran itu sendiri. Dari kita pun dapat melihat, bahwa kesadaran yang maksudkan oleh Husserl adalah sesuatu yang bersifat transenden, yakni ia terbuka dan keluar dari dirinya sendiri yang mengarah dan tertuju pada suatu objek yang disadarinya.

Husserl memang peletak dasar filosofis dalam pemikiran filsafat fenomenologi, namun hal itu tidak berarti pemikiran filsafat Husserl tidak terbuka pada suatu kritik, terutama kritik yang datang dari para filsuf yang melanjutkan corak pemikiran filsafatnya, yaitu fenomenologi dan eksistensialisme. Martin Heidegger (1889-1976), seorang pemikir filsafat fenomenologi dengan corak yang berbeda dari fenomenologi Husserl pun telah memberikan kritik terhadap pemikiran Husserl, terutama dalam masalah kesadaran. Heidegger berpendapat, pemikiran Husserl tentang kesadaran telah terjebak pada idealism. Husserl menempatkan kesadaran hanya pada tataran yang paling ideal, yaitu kesadaran transendental. Kesadaran semacam itu, bagi Heidegger hanya akan berada jauh dengan dunia yang nyata, karena hanya berkutat pada wilayah idealisme yang transenden saja. Oleh karena itu, Martin Heidegger telah menempatkan kembali posisi kesadaran pada wilayah yang realistik, yaitu pada tatanan dunia nyata.

Arah kajian filsafat Heidegger memang berbeda dengan Husserl, karena kajian filsafat Heidegger lebih tertuju pada kajian tentang keberadaan dan waktu (being and time), sehingga kajian filsafat Heidegger mengenai fenomenologi dan kesadarannya pun selalu berhubungan dengan konsep tentang keberadaan dan waktu. Darisinilah kemudian istilah eksistensi atau yang biasa disebut oleh Heidegger dengan istilah dasein menjadi kata kunci pada pemikiran filsafatnya.

Dasein dalam pandangan Heidegger selalu dihubungkan dengan sebuah kemungkinan akan adanya sesuatu itu sendiri, yang diantaranya menjadi sesuatu itu sendiri atau tidak menjadi sesuatu itu sendiri. Menjadi sesuatu itu sendiri disini adalah menjadi sesuatu itu dengan caranya sendiri, sedangkan tidak menjadi sesuatu itu sendiri adalah sesuatu yang sudah berkembang dan menyatu dengan sesuatu yang ada di luar dirinya. Dari sini kemudian istilah dasein itu pun menjadi mengarah pada perkembangan yang membedakan antara dasein otentik dan dasein tidak otentik. Apa yang disebut dengan istilah dasein otentik merupakan sebuah gambaran dasein menjadi sesuatu itu sendiri. Sedangkan dasein tidak otentik merupakan gambaran gambaran tentang dasein yang tidak menjadi sesuatu itu secara sendiri.

Secara eksistensi, dasein dalam pandangan Heidegger telah memilih pada gambaran yang pertama, yaitu sesuatu untuk menjadi sendiri, atau dasein otentik. Sesuatu untuk menjadi sendiri atau dasein otentik adalah sebuah konsep dorongan kesadaran manusia secara eksistensial pada arah yang lebih otentik, yaitu sesuatu untuk menjadi sendiri dengan pencapaian hak otonom atas individu pada akhirnya. Inilah kemudian yang akan membawa pemahaman tentang kualifaksi integritas seorang individu untuk menemukan otentisitasbagi dirinya. Namun Heidegger pun berpendapat bahwa pencarian tentang otentisitas individu ini pun tidak akan pernah selesai pada suatu hakikat dan makna dari eksistensi manusia itu sendiri. Pencarian otentisitas ini akan berjalan secara terus-menerus, tidak akan pernah samapai pada suatu akhir.

Ternyata pemikiran Heidegger pun tidak hanya berhenti disana. Lebih lanjut pemikiran Heidegger ini pun telah diperkaya oleh seorang filsuf yang sangat fenomenal pada abad ke-20, yaitu Jean Paul Satre (1905-1980). Satre adalah seorang filsuf yang secara terang-terangan menyatakan bahwa dirinya adalah penganut pemikiran filsafat eksistensialisme. Selain pernyataan dirinya sebagia filsuf eksistensialis, Satre merupakan filsuf yang sekaligus menjadi pioner pada diskursus filsafat tentang kebebasan manusia dan tanggung jawabnya. Berbeda dengan Husserl, dalam kajian filsafatnya Satre pun telah mengambil sikap yang sama seperti Martin Heidegger, dengan menempatkan kesadaran pada ranah dunia yang lebih nyata.

Namun kendati demikian, bukan berarti disini Satre tidak terpengaruh oleh Edmund Husserl. Pada sikap yang lain Satre sangat memuji pemikiran filsafat Husserl, terutama dalam upaya Husserl untuk menempatkan filsafat menjadi suatu ilmu yang rigoris, yaitu sikap pikiran dimana pertentangan pendapat mengenai tentang sesuatu tindakan bersikeras mempertahankan pandangan yang sempit dan ketat. Darisinilah Satre memuji Husserl karena pemikiran filsafat Husserl telah membuka filsafat pada realitasnya sendiri, tanpa adanya asumsi-asumsi, tanpa adanya hipotesa pada sebelumnya, bahkan teori-teori sebelum fenomenologis yang dianggap oleh Satre sangat penuh dengan gagasan-gagasan yang sangat deterministik dan mekanistik. Inilah pemikiran penting yang diambil oleh Satre dari Husserl.

Dalam buku terkenalnya yang berjudul Being and Nothingness (1948), Satre telah membagi sekaligus membedakan tentang keberadaan menjadi dua, yaitu etre pour soi (ada pada dirinya) dan etre en soi (ada dalam dirinya). Apa yang disebut dengan Etre pour soi telah menujukan pada kesadaran atau bahkan manusia itu sendiri. sedangkan apa yang diebut dengan etre en soi ditunjukan oleh Satre pada suatu benda. Bagi Satre, kesadaran tidaklah terjadi pada keberadaan yang ada pada benda, melainkan pada manusia. Kesadaran hanya ada pada manusia. Dan sebuah benda bagaiamnapun juga, baik itu seperti meja, kursi, lampu, dan sebagainya, tidaklah memiliki kesadaran seperti manusia. sebuah benda hanya memiliki sesuatu yang bersifat, seperti luas, padat, terukur, dan diam. Oleh karena itu, dalam hal ini keberadaan benda dengan keberadaan manusia itu sangatlah berbeda. Keberadaan yang ada pada suatu benda bukanlah keberadaan secara eksistensial. Sedangkan keberadaan manusia adalah keberadaan eksistensial, karena di dalam diri manusia tersebut terdapat suatu kesadaran.

Dalam kajiannya tentang kesadaran, Satre pun sependapat dengan Husserl dengan menjadikan kesadaran sebagai titik utama untuk upaya-upaya penyelidikan terhadap filsafat. Keterpengaruhan Satre dari Husserl tentang kesadaran adalah tentang intensionalitasnya, yaitu kesadaran yang mengarah dan tertuju pada sesuatu yang dituju. Namun bagi Satre, sesuatu yang dituju disini bukanlah sesuatu yang diam seperti benda-benda yang ada dihadapan kita, melainkan sesuatu tersebut adalah kesadaran atau bahkan subjek itu sendiri. Kesadaran ini disebut juga sebagai kesadaran reflektif, yaitu kesadaran yang disadari, seperti kita menyadari pada suatu tindakan kita ketika kita sedang bertindak. Kesadaran reflektif adalah suatu kesadaran yang disadari.

Di sisi yang lain Satre pun menjelaskan bahwa apa yang disebut sebagai kesadaran pra reflektif. kesadaran pra reflektif bagi Satre adalah kesadaran yang menunjukan pada suatu objek yang tidak di refleksikan oleh kita. Kesadaran ini adalah kesadaran yang hanya tertuju pada suatu objek yang tidak kita sadari. Berbeda dengan kesadaran yang disadari atau kesadaran reflektif, kesadaran pra reflektif adalah kesadaran yang tidak disadari, karena kesadaran ini tidak melakukan suatu tindakan. Kesadaran ini hanya menempati ruang imajinasi atau bahkan fantasi yang sebenarnya tidak kita lakukan atau kita perbuat.

Dari dua bentuk kesadaran ini, dapat dikatakan bahwa manusia pada dasarnya merupakan suatu subjek yang berada secara eksistensial. Dorongan kesadaran yang membawa manusia untuk bertidak merupakan suatu yang sebenarnya telah disadari oleh manusia itu sendiri, baik itu melalui kesadaran reflektif atau pun kesadaran pra reflektif. Jadi, untuk melawan gempuran psikonalasis yang berpendapat bahwa manusia itu telah didominasi oleh ketidaksadarannya bagi Satre itu adalah ketidakmungkinan yang tidak dapat diterima oleh akal sehat seorang manusia. Satre berpendapat, tidak ada kesadaran yang tidak disadari. Dalam posisi kita yang sedang berfantasi itu pun bagi Satre sebenarnya kita telah menyadarinya. Jadi eksistensi manusia adalah eksistensi yang merupakan dorongan dari kesadarannya.

Dalam pemikirannya yang lain mengenai kesadaran, Satre berupaya menguhubungkan kesadaran akan ketiadaan. Ketiadaan disini tidak hanya ditujukan pada sesuatu yang tiada saja, melainkan pada kemampuan kesadaran manusia untuk menolak dengan cara yang “men-tidak”. Manusia dengan segala kesadarannya selalu melakukan imajinasi-imajinasi akan sesuatu hal yang selalu ingin diimajinasikan. Perlu kita ketahui, bahwa suatu imajinasi itu sebenarnya tidak lain adalah ketiadaan. Bahkan objek-objek yang ada dalam bayangan yang kita pikirkaan, sebenarnya itu tidaklah ada, atau bahkan hadir dihadapan kita. Darisini Satre berpendapat bahwa, kesadaran itu sendiri yang sebenarnya adalah sumber dari ketiadaan.

Bagi Satre ketiadaan adalah bagian yang telah hilang dari keseluruhan Ada, dan Bagian yang hilang ini merupakan suatu bentuk penolakan kesadaran manusia terhadap Ada itu sendiri. Perlu kita ketahui, sesuatu yang Ada adalah sesuatu yang memiliki bentuk, yang di dalamnya memiliki muatan isi, padat, dan melimpah ruah. Lalu dalam keadaan Ada yang seperti itu, mungkinkah akan ada lagi tempat untuk suatu ketiadaan dari keselurhan Ada? Karena Ada itu memiliki muatan padat, berisi, dan melimpah ruah, tentu tidak ada lagi tempat bagi ketiadaan pada sesuatu Ada. Darisini Satre kemudian berpendapat, bahwa suatu ketiadaan itu sebenarnya datang dari suatu harapan yang berasal dari kesadaran manusia itu sendiri. Jadi, dengan kata lain, kesadaranlah yang sebenarnya yang menciptakan ketiadaan itu sendiri.

Selain kesadaran, kebebasan pun menjadi kata kunci dalam pemikiran filsafat Satre. Kebebasan merupakan sesuatu yang bersatu padu dengan kesadaran, tanpa adanya kesadaran akan sesuatu, tidak mungkin manusia akan membicarakan kebebasan bahkan berupaya ingin meraih kebebasannya. Begitu juga dengan penolakan yang “men-tidak”, sangat sulit kita bayangkan jika tanpa adanya sikap penolakan “men-tidak” pada diri kita akan mendapatkan kebebasan. Bagi Satre, manusia telah dikutuk menjadi bebas. Dengan segala kebebasannya, manusia pun bebas untuk menjadi apa saja sesuai dengan batasan eksistensial yang dimilikinya. Kebebasan merupakan suatu keunikan yang dimiliki oleh manusia yang tidak dapat dimiliki Ada-Ada lain selain manusia. Inilah perbedaan penting akan eksistensi manusia di bandingkan dengan Ada-Ada lainnya, yakni kebebasan.

Kebebasan manusia dalam pemikiran filsafat Satre dapat dikatakan sebagai upaya dirinya untuk mempertegas pemahaman eksistensialisme dalam pemikiran filsafat. Manusia bagi Satre sangatlah berbeda dengan benda-benda yang lain. Karena manusia berbeda dengan benda-benda lainnya, esensi itu tidak mendahului eksistensi manusia. Satre menolak keberadaan manusia didahului oleh esensi. Jika di Ada manusia telah didahului oleh esensi maka manusia pun tidak ubahnya seperti sebuah benda yang dalam hal ini telah dikonstruk oleh sesuatu yang ada di luar dirinya. Sebuah kursi misalnya, yang didahulukan dari kursi tersebut adalah sebuah esensi. Sebuah kursi merupakan sesuatu yang dibentuk dengan kesesuaian atau pun gambaran-gambaran dari keinginan si pembuatnya, bukan karena kebebasan eksistensial si kursi tersebut. Dan diantara  keberadaan manusia dan keberadaan kursi tersebut, tentu hal itu sangatlah berbeda. Disini Keberadaan kursi telah didahului oleh sesuatu yang berasal dari luar dirinya, dan sesuatu di luar dirinya itu adalah sebuah esensi. Adanya keberadaan kursi, karena didahului oleh esensi maka Adanya kursi itu pun adalah suatu bentukan dan keinginan si pembuat kursi, bukan karena kebebasan eksistensial dari kursi tersebut.

Berbeda dengan Ada yang didahulukan oleh eksistensi, Ada yang didahulukan oleh eksistensi adalah Ada yang berasal dari dalam dirinya. Ada ini adalah Ada yang didorong oleh kesadaran, dan kebebasannya. Dalam Ada manusia, eksistensi itu mendahului esensi. Manusia dalam Adanya telah memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan atas pilihan-pilihan dirinya. Dan dari setiap pilihanya itu, manusia pun akan bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang telah dipilihnya. Berbeda dengan kursi sebelumnya yang telah digambarkan di atas, kursi tersebut Ada karena sesuai dengan fungsi dan keinginan si pembuatnya. Namun karena dalam Ada manusia eksistensi mendahului esensi, maka eksistensi manusia ditentukan oleh drinya sendiri, bukan dari otoritas yang berada di luar dirinya. Dari sinilah kita dapat melihat, bahwa menjadi pemikiran Satre tentang kebebasan adalah upaya Satre untuk membawa manusia pada arah yang otonom pada diri manusia terlihat sangat kuat, karena manusia memiliki kebebasan untuk menjadi Ada dari apa yang ada pada dirinya, bukan Ada karena sesuatu di luar dirinya.

Akhirnya;

Dari beberapa pandangan para tiga filsuf di atas, kita pun dapat mengambil beberapa pelajaran pokok untuk mempertegas kembali tentang kesadaran, keberadaan, dan kebebasan kita sebagai manusia. Dari Husser kita dapat mengambil pelajaran tentang kesadaran yang bersifat intensionalitas, dari Heidegger kita dapat mengambil pelajaran tentang keberadaan otentik, sedangkan dari Satre kita dapat mengambil pelajaran secara keselurahan seperti, kesadaran, keberadaan, dan kebebasan kita dalam memilih sesuai batas eksistensial kita sebagai manusia. Walau pun tidak sepenuhnya kita perlu percaya pada gagasan mereka, tapi harus kita akui bahwa kesadaran, keberadaan otentik, dan kebebasan kita sebagai manusia yang otonom perlu kita pertegas kembali di tengah kehidupan kita yang dipenuhi unsur-unsur kekuatan dari luar diri kita yang berupaya untuk menjinakan kita sebagai manusia yang otonom dan memiliki kebebasan. 

Jika kita kembali pada pertanyaan masih relevankah kita membicarakan kesadaran, maka saya pikir jawabannya pun masih relevan. Karena kesadaran bagaimanapun juga merupakan sesuatu diskursus yang sangat penting untuk selalu diwacanakan agar menjaga otentisitas keberadaan kita sebagai manusia tidak selamanya harus patuh dan tunduk pada sesuatu yang datang di luar diri kita. Disini kita semua berusaha untuk kembali memikirkan ulang tentang diri kita, bahwa setiap apa yang datang dari luar diri kita tidaklah seharusnya membuat kita harus selalu tunduk dan patuh secara total atas apa yang dikehendakinya. Kita adalah subjek yang memiliki kesadaran. kita memiliki kebebasan untuk menentukan sikap atas setiap pilihan-pilihan kita. Kita bukanlahlah benda yang tidak memiliki kesadaran, melainkan kita adalah manusia sebagai subjek yang memiliki kesadaran. Jika kita memposisikan diri kita sama hal nya seperti benda, maka setiap apa yang menjadi pilihan-pilihan dalam hidup kita selalu difungsikan dan digambarkan oleh keinginan-keinginan si pembuatnya. Jadi, disini kita perlu mempertegas kembali bahwa, kita bukanlah sebuah benda. Kita adalah mahluk otonom yang memiliki kebebasan untuk mengoptimalkan setiap ego dan kreativitas-kreativitas kita.

Maka dari ketiga pemikiran para filsuf di atas inilah setidaknya kita pun telah membuka kesadaran kita. Dari ketiga para filsuf ini pulalah kita membuka sebuah gerbang yang lebih membebaskan, walau pun patut kita pungkiri bahwa kita saat ini telah berhadapan kekuatan-kekuatan besar yang datang dari luar diri kita dan berupaya mengendalikan diri kita, kita sejatinya tidak boleh larut tunduk secara total. Jadi, mengenai pertanyaan mengapa aku pada awal tulisan ini, pada dasarnya memang diupayakan untuk mempertegas kembali tentang posisi dan fungsi kita sebagai manusia yang dalam hal ini tidak lain adalah subjek yang memiliki kesadaran, bukan objek yang dibentuk secara total untuk patuh pada apa yang ada di luar diri kita.


Di Kandang Pembebasan, 9 Februari 2015  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Kehendak Untuk Berkuasa

MENULIS: MENGURAIKAN KATA SEBAGAI SENJATA